Cara Kerja Smart Tunnnel di Malaysia
Posted by Unknown at Jumat, 03 Oktober 2014
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, akan tiru smart tunnel di
Kuala Lumpur, Malaysia, untuk atasi banjir di Jakarta. Terowongan itu akan
dibangun dari Jalan MT Hariyono di Jakarta Timur hingga ke Pluit di Jakarta
Utara. Sepanjang 19 kilometer.
Smart tunnel di Malaysia punya diameter 13,2 meter.
Panjangnya 9,7 kilometer dan di dalamnya dibangun 2 dek bertingkat. Dek
bertingkat itu panjangnya 4 kilometer. Apabila dalam kondisi kering, dek ini
difungsikan sebagai jalan tol.
Secara umum, ada 4 mode kerja smart tunnel di Malaysia. Mode
pertama diberlakukan kalau terjadi hujan ringan. Dalam kondisi itu, terowongan
masih dibuka untuk kendaraan. 2 dek masih dapat difungsikan sebagai jalan tol.
Mode kedua, diberlakukan saat terjadi hujan sedang dan air
di Sungai Klang serta Ampang melebihi rata-rata. Dalam kondisi ini, sistem
smart tunnel diaktifkan. Air hujan dialirkan ke saluran terbawah atau saluran
yang ada di bawah 2 dek atau jalan tol.
Namun, jalan tol masih tetap dibuka untuk para pengendara.
Mode kedua ini diberlakukan bila debit air di Sungai Klang dan Ampang berkisar
antara 70 hingga 150 meter kubik per detik.
Mode ketiga, apabila terjadi badai dan banjir. Jalan tol
dalam terowongan ditutup untuk semua jenis kendaraan. Setelah terowongan
dikosongkan dari kendaraan, secara otomatis gerbang aliran air akan membuka.
Banjir mengalir melalui terowongan itu. Jalan tol di terowongan tersebut
kembali akan dibuka dalam 2 hingga 8 jam usai penutupan.
Kemudian mode keempat. Mode ini diterapkan apabila hujan atau
badai yang terjadi jauh lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya. Kondisi
ini biasanya diumumkan 1 hingga 2 jam setelah pemberlakuan mode ketiga. Jika
kondisi ini terjadi, maka terowongan ini baru akan dibuka dalam waktu 4hari
setelah penutupan.
0 komentar: